CSR Telkom untuk pemberdayaan keluarga miskin

BANDUNG Barat, 11 JULI 2012, Roemah Kelinci di jalan Raya Padalarang Cisarua Km-3 Cijamil Ngamprah Kabupaten Bandung Barat, merupakan kawasan budidaya kelinci sebagai perwujudan mimpi alumni ITB untuk turut mengentaskan kemiskinan, menuju keluarga sejahtera yang berwawasan Enterpreneur

 

Telkom melalui program Bina Lingkungan turut mendukung kegiatan tersebut untuk pelatihan dan pendampingan para peserta Kelompok Peternak Kelinci (KPK) yang mayoritas dari keluarga miskin yang teknis pendampingannya dilakukan oleh Roemah Kelinci pada keluarga miskin yang disebut KPK (1 KPK terdiri dari 5 keluarga miskin), yang setiap minggunya anggota KPK dikumpulkan di Roemah Kelinci selama 2 jam untuk aktivitas kerahanian dan problem solving budidaya kelinci.

SM. Perencanaan & Pengendalian CDC Aep Sunarya mewakili SGM-CDC Rabu (11/7) menghadiri pelaksanaan pelatihan para calon peternak kelinci dari kawasan Pasuruan Jawa Timur di Roemah Kelinci, menurut Ketua Umum Koperasi Pondok Pesantren Daar Salaam (KPPD) Moh. Yusuf, S.Si (Gus Yus), Kelinci sudah menjadi ciri khas Jawa Barat sejak jaman penjajahan dahulu, Belanda memasuki wilayah Jawa Barat dengan membawa kelinci yang kemudian berkembang baik secara liar, dikatakannya saat Gus Yus menjadi konsultan, dibayarnya hanya Nol koma sekian persen dari nilai konsultasi, setelah memutuskan untuk menekuni dan fokus total para ternak kelinci, bayarannya 300%., ini tentu sangat menggiurkan.

 

Berbisnis kelinci menurut dia merupakan usaha yang ramah lingkungan, betapa tidak, terdapat 5 sektor yang dapat ditekuni untuk bisnis kelinci, dimulai dari ternak kelinci, 1 ekor indukan kelinci dapat melahirkan 6 hingga 9 ekor anak kelinci selanjutnya hingga akhir usia produktif 2 tahun, induk kelinci sudah dapat dialihkan ke sektor industri daging kelinci yang pasarnya sangat jelas dan terbuka luas untuk sektor industri daging olahan atau sektor rumah makan saji kelinci, kalaupun tidak tertarik dengan sector-sektor tadi, dapat juga menekuni sektor industri pakan kelinci.

 

Masih menurut Gus Yus, side income dari budidaya kelinci adalah urine-nya, urine kelinci dihargai pasar sebagai pupuk organik Rp. 3.000,- per liter, sedangkan kotoran (tinja kelinci) per 25 kg-nya dihargai Rp. 30.000,- dan kulitnya yang halus memiliki nilai jual luar negeri (Belanda) USD 20 per lembar, dan ketika Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan berkunjung ke Roemah Kelinci disini, ternyata DI juga menekuni bisnis ternak kelinci pungkas Gus Yus. ***(mbank)