06 Januari 2009 |
Home |

TELKOM Kembali Membangun Fastel Di Pulau-Pulau Terluar Indonesia
Jakarta, 12 Nopember 2008 - Bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 Nopember 2008, PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengoperasikan fasilitas telekomunikasi di Pulau Berhala, yang berada di Selat Malaka. Pengoperasian fasilitas telekomunikasi di tersebut merupakan bagian dari komitmen Telkom untuk membangun fasilitas telekomunikasi di pulau-pulau terluar Indonesia.
Peresmian fasilitas telekomunikasi (fastel) di Pulau Berhala telah dilaksanakan sejak 4 November 2008 dan selesai pada 5 November 2008 itu mendapat dukungan penuh dari TNI Angkatan Laut, khususnya Lantamal I Belawan.
Menurut Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia, peresmian fastel di Pulau Berhala merupakan bagian dari komitmen Telkom untuk membangun fastel hingga di daerah-daerah tertinggal/terasing. Fasilitas yang dioperasikan Telkom terdiri dari tiga akses, yakni telepon, faksimili dan internet broadband.
Penyediaan tiga akses di Pulau Berhala tersebut akan menjadi prototipe Fastel Merah Putih di pulau-pulau terdepan NKRI. Ketiga akses tersebut telah daat berfungsi sejak 5 November 2008 dan panggilan pertama dilakukan oleh Asops Lantamal I Belawan di Belawan saat hadir Pulau Berhala dalam rangka memimpin upacara bendera peserta “Cinta Tanah Air” masyarakat Sumatera Utara.
Eddy Kurnia menegaskan, kehadiran Telkom di Pulau Berhala semata-mata sebagai tanggung jawab sosial perusahaan, karena apabila dilihat dari hitungan bisnis, pengoperasian fastel di pulau tersebut tidak menguntungkan. “Sebagai perusahaan telekomunikasi nasional, Telkom merasa terpanggil untuk menggelar fasilitas telekomunikasi bagi penduduk Pulau Berhala, agar mereka mudah berkomunikasi dengan saudara-saudaranya di pulaun lain,” katanya.
Executive General Manager Telkom Divisi Regional Sumatera Muhammad Awaluddin menegaskan bahwa kehadiran Telkom di pulau terasing itu, turut membantu pemerintah mengamankan pulau-pulau terluar dari kemungkinan diakuinya pulau tersebut oleh negara lain. “Kehadiran Telkom di Pulau Berhala sekaligus merupakan kehadiran pemerintah dan negara Indonesia di pulau tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, terkait dengan tender telepon pedesaan atau biasa disebut Universal Service Obligation (USO) yang tengah digelar kembali oleh Pemerintah, Telkom sangat berminat atas proyek tersebut dan siap melaksanakan pembangunannya. “Kami memastikan ikut lelang proyek ini, apalagi ini sejalan dengan komitmen Telkom untuk membangun fastel di daerah-daerah terpencil,” jelasnya.
“Terlebih Telkom Group melalui anak perusahaan PT.Telkomsel melalui program Telkomsel Merah Putih juga sudah membangun jaringan di daerah terluar dan kawasan terpencil,” demikian Eddy Kurnia. Karena itu ia berharap Pemerintah bisa memperhitungan jaringan fastel yang telah dibangun Telkom Group itu dalam tender ulang USO nanti.
Dia berharap pemerintah mau mengaudit untuk menghitung jumlah desa yang akan dimasukan dalam proyek telepon pedesaan itu. Desa yang sudah dibangun jaringan teleponnya oleh Telkom Group selama ini harus mendapat insentif dari pemerintah. Hal ini katanya, bisa dirundingkan. “Yang penting, kalah atau menang, Telkom harus memperoleh insentif,” tegasnya.
Seperti dikemukakan Eddy Kurnia, jauh hari sebelumnya Telkom telah melakukan pembangunan infrastruktur hingga ke desa-desa terpencil. Bahkan jaringan Telkom sudah digelar di wilayah terluar yang berbatasan dengan Negara tetangga.
Telkom menargetkan penyediaan fasilitas telekomunikasi, setidaknya di 12 titik wilayah batas terluar negeri ini. Ke-12 lokasi itu adalah Pulau Marore di utara Kepulauan Sangihe yang berbatasan dengan Filipina dan Pulau Marampit di utara Kepulauan Talaud yang juga berbatasan dengan Filipina. Lalu, Pulau Sekatung di utara Pulau Natuna yang berbatasan dengan Vietnam, Pulau Tapeh di sebelah Timur Laut Timor Leste, dan Pulau Rondo di utara Pulau Weh, Aceh. Masih ada lagi Pulau Berhala, dan Pulau Fani, Pulau Fanildo, serta Pulau Bras yang ada di utara Papua. Juga, Pulau Batek yang berbatasan dengan Timor Leste, Pulau Dana di perbatasan dengan Australia, serta Pulau Sebatik di perbatasan dengan Malaysia.
Selain itu, Telkom juga terus berusaha menghapus keterasingan di wilayah pedalaman. Saat ini, dari 66.778 desa yang ada di Indonesia, baru sekitar 23.759 desa yang terjangkau layanan telekomunikasi. Khusus di Sumatera telah dibangun fasilitas telekomunikasi di 386 titik, meliputi desa-desa di propinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu.
Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi :
Eddy Kurnia
Vice President Public and Marketing Communication
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Tel. 62-22-4527455
Fax. 62-22-4521411
Email: eddy_k@telkom.co.id
Website : www.telkom.co.id
Peresmian fasilitas telekomunikasi (fastel) di Pulau Berhala telah dilaksanakan sejak 4 November 2008 dan selesai pada 5 November 2008 itu mendapat dukungan penuh dari TNI Angkatan Laut, khususnya Lantamal I Belawan.
Menurut Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia, peresmian fastel di Pulau Berhala merupakan bagian dari komitmen Telkom untuk membangun fastel hingga di daerah-daerah tertinggal/terasing. Fasilitas yang dioperasikan Telkom terdiri dari tiga akses, yakni telepon, faksimili dan internet broadband.
Penyediaan tiga akses di Pulau Berhala tersebut akan menjadi prototipe Fastel Merah Putih di pulau-pulau terdepan NKRI. Ketiga akses tersebut telah daat berfungsi sejak 5 November 2008 dan panggilan pertama dilakukan oleh Asops Lantamal I Belawan di Belawan saat hadir Pulau Berhala dalam rangka memimpin upacara bendera peserta “Cinta Tanah Air” masyarakat Sumatera Utara.
Eddy Kurnia menegaskan, kehadiran Telkom di Pulau Berhala semata-mata sebagai tanggung jawab sosial perusahaan, karena apabila dilihat dari hitungan bisnis, pengoperasian fastel di pulau tersebut tidak menguntungkan. “Sebagai perusahaan telekomunikasi nasional, Telkom merasa terpanggil untuk menggelar fasilitas telekomunikasi bagi penduduk Pulau Berhala, agar mereka mudah berkomunikasi dengan saudara-saudaranya di pulaun lain,” katanya.
Executive General Manager Telkom Divisi Regional Sumatera Muhammad Awaluddin menegaskan bahwa kehadiran Telkom di pulau terasing itu, turut membantu pemerintah mengamankan pulau-pulau terluar dari kemungkinan diakuinya pulau tersebut oleh negara lain. “Kehadiran Telkom di Pulau Berhala sekaligus merupakan kehadiran pemerintah dan negara Indonesia di pulau tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, terkait dengan tender telepon pedesaan atau biasa disebut Universal Service Obligation (USO) yang tengah digelar kembali oleh Pemerintah, Telkom sangat berminat atas proyek tersebut dan siap melaksanakan pembangunannya. “Kami memastikan ikut lelang proyek ini, apalagi ini sejalan dengan komitmen Telkom untuk membangun fastel di daerah-daerah terpencil,” jelasnya.
“Terlebih Telkom Group melalui anak perusahaan PT.Telkomsel melalui program Telkomsel Merah Putih juga sudah membangun jaringan di daerah terluar dan kawasan terpencil,” demikian Eddy Kurnia. Karena itu ia berharap Pemerintah bisa memperhitungan jaringan fastel yang telah dibangun Telkom Group itu dalam tender ulang USO nanti.
Dia berharap pemerintah mau mengaudit untuk menghitung jumlah desa yang akan dimasukan dalam proyek telepon pedesaan itu. Desa yang sudah dibangun jaringan teleponnya oleh Telkom Group selama ini harus mendapat insentif dari pemerintah. Hal ini katanya, bisa dirundingkan. “Yang penting, kalah atau menang, Telkom harus memperoleh insentif,” tegasnya.
Seperti dikemukakan Eddy Kurnia, jauh hari sebelumnya Telkom telah melakukan pembangunan infrastruktur hingga ke desa-desa terpencil. Bahkan jaringan Telkom sudah digelar di wilayah terluar yang berbatasan dengan Negara tetangga.
Telkom menargetkan penyediaan fasilitas telekomunikasi, setidaknya di 12 titik wilayah batas terluar negeri ini. Ke-12 lokasi itu adalah Pulau Marore di utara Kepulauan Sangihe yang berbatasan dengan Filipina dan Pulau Marampit di utara Kepulauan Talaud yang juga berbatasan dengan Filipina. Lalu, Pulau Sekatung di utara Pulau Natuna yang berbatasan dengan Vietnam, Pulau Tapeh di sebelah Timur Laut Timor Leste, dan Pulau Rondo di utara Pulau Weh, Aceh. Masih ada lagi Pulau Berhala, dan Pulau Fani, Pulau Fanildo, serta Pulau Bras yang ada di utara Papua. Juga, Pulau Batek yang berbatasan dengan Timor Leste, Pulau Dana di perbatasan dengan Australia, serta Pulau Sebatik di perbatasan dengan Malaysia.
Selain itu, Telkom juga terus berusaha menghapus keterasingan di wilayah pedalaman. Saat ini, dari 66.778 desa yang ada di Indonesia, baru sekitar 23.759 desa yang terjangkau layanan telekomunikasi. Khusus di Sumatera telah dibangun fasilitas telekomunikasi di 386 titik, meliputi desa-desa di propinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu.
Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi :
Eddy Kurnia
Vice President Public and Marketing Communication
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Tel. 62-22-4527455
Fax. 62-22-4521411
Email: eddy_k@telkom.co.id
Website : www.telkom.co.id


