Jakarta, 7 Juni 2010 - TELKOM menerbitkan buku berjudul “Mengurai Benang Kusut Merajut Masa Depan”. Buku tersebut mengupas mengenai pengalaman TELKOM pada Tahun 2004 membenahi laporan keuangan yang akan diserahkan kepada pemegang saham TELKOM di New York Stock Exchange (NYSE) berdasarkan aturan yang ditetapkan oleh Security Exchange Commission (SEC). Listing di 3 pasar modal sekaligus dan mengikuti aturan yang ada di dalamnya bukan perkara mudah bagi sebuah perusahaan. Namun hari ini TELKOM mampu mengikuti seluruh aturan yang ditetapkan dan masuk perusahaan dengan kategori kredibel. TELKOM pun melalui serangkaian proses untuk menuju pencapaian tersebut. ”Inti dari buku ini adalah bagaimana memahami proses transformasi tata kelola pelaporan keuangan di TELKOM,” ungkap Komisaris Utama TELKOM, Tantri Abeng. Tantri mengatakan bahwa di TELKOM setiap masalah dijadikan peluang dan pasti bisa diselesaikan bila dikomunikasikan dengan efektif. ”Maka dari itulah mengapa hari ini saya dapat tidur nyenyak karena saya tahu persis bahwa the financial reporting is credible,” tambahnya. Soft Launching buku dilaksanakan di Aula Pangeran Kuningan, Gedung Grha Citra Caraka, Jakarta pada Hari Jumat, 4 Juni 2010. Buku “Mengurai Benang Kusut, Merajut Masa Depan” Transformasi Tata Kelola Pelaporan Keuangan Telkom Pasca Sarbanes – Oxley Act disusun oleh Arif Arryman, P. Sartono, Bobby AA. Nazief, Salam, Sahat Pardede, Jarot Kristiono dan M. Ghazali Latief. Hadir dalam peluncuran buku, Wakil Kementrian BUMN Anjang Kusumah, Komisaris Independent sekaligus Ketua Komite Audit Telkom, Arif Arryman, Komisaris Independen P. Sartono, Direktur Utama TELKOM Rinaldi Firmansyah beserta jajaran Direksi lainnya. Menurut salah satu penyusunnya, Arif Arryman, TELKOM hendak berbagi pengalaman terutama sekali tentang bagaimana mengembangkan Financial Reporting Governance dan pengendalian internal ala Sarbanes Oxley Act menjadi kesadaran dan praktik bersama. Sementara itu Direktur Utama TELKOM Rinaldi Firmansyah menyambut baik terbitnya buku ini. TELKOM patut mendapatkan apresiasi karena telah bersusah payah mewujudkan tata kelola laporan keuangan Sarbanes Oxley-Act (SOA) dan sebentar lagi akan mempelopori dimulainya pelaporan berstandar internasional atau International Financial Reporting Standard (IFRS) pada tahun 2011. ”Mudah-mudahan buku ini bermanfaat bagi perkembangan pelaporan keuangan di Indonesia secara umum,” ujar Rinaldi. Acara peluncuran buku kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan bedah buku oleh Ketua Ikatan Akutansi Indonesia Ahmadi Hadibroto, Kepala Biro Standar Akutansi Indonesia dan Keterbukaan Bapepam Etty Retno Wulandari, Mantan Pimpinan KPK Erry Riyana Hardjapamekas, Anggota Audit Committee Telkom Sahat Pardede dan dimoderatori oleh Peneliti dan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Padang Wicaksono.