(dalam miliar Rupiah, kecuali untuk laba bersih per lembar saham dan laba bersih per ADS)
2006(*)
2007(*)
2008(*)
2009(*)
2010(*)
Jumlah Pendapatan Usaha
54.748
62.683
64.166
67.678
68.629
Jumlah Beban Usaha
32.980
36.093
41.729
44.890
46.138
EBITDA(**)
31.908
37.200
34.770
36.762
37.102
LABA USAHA
21.768
26.590
22.437
22.788
22.491
(Beban) Penghasilan lain-lain bersih
258
(721)
(2.038)
(341)
(1.075)
LABA SEBELUM PAJAK
22.026
25.869
20.399
22.447
21.416
LABA BERSIH
11.029
13.043
10.672
11.399
11.537
Laba Bersih per saham dasar
548,3
653,4
540,4
579,5
586,5
Laba Bersih per ADS (40 saham seri B per ADS)
21.932,9
26.136,4
21.615,2
23.180,8
23.461,6
Rasio Keuangan dan Operasi Konsolidasian
2006(*)
2007(*)
2008(*)
2009(*)
2010(*)
Laba Bersih per Total Aset (ROA) (%)
14,7
15,9
11,7
11,7
11,6
Laba Bersih per Ekuitas (ROE)(%)
40,2
39,2
31,5
29,5
26,0
Rasio Lancar(%)
66,5
76,0
53.7
60,2
91,5
Total Kewajiban per Total Aset (%)
52,6
48,1
52,2
49,3
43,4
Marjin Usaha (%)
39,8
42,4
35,0
33,7
32,8
Rata-rata Periode Kolektibilitas Piutang (hari)
24,8
19,6
20,0
20,4
23,1
Marjin EBITDA (%)
58,3
59,3
54,2
54,3
54,1
Marjin Laba Bersih (%)
20,1
20,8
16,6
16,8
16,8
Hutang per Ekuitas(%)
56,1
47,4
58,2
56,6
48,2
Hutang per EBITDA(%)
48,2
42,4
56,8
59,5
57,7
EBITDA per Beban Bunga(Kali)1
24,8
25,9
21,2
17,5
19,2
EBITDA per Hutang Bersih(%)2
457,5
680,2
277,2
268,9
312,4
RASIO PRODUKTIVITAS :
Total Pendapatan Usaha per Karyawan (Rp miliar)
1,6
1,9
2,1
2,4
2,6
LIS/Karyawan (sst)3
465,9
593,4
853,7
1.015,6
1.252,0
(1) EBITDA per beban bunga merupakan EBITDA dibagi beban bunga. (2) EBITDA per hutang bersih merupakan EBITDA dibagi total kewajiban yang dikurangi kas dan setara kas, penyertaan sementara dan rekening
escrow pada akhir tahun. (3) LIS per karyawan merupakan jumlah pelanggan telepon kabel dan nirkabel tidak bergerak dibagi dengan jumlah karyawan TELKOM
(tidak termasuk anak perusahaan).
*) Sebagaimana disajikan kembali, sesuai dengan implementasi PPSAK 1 (lihat catatan 2.p.i pada Laporan Keuangan Konsolidasian). (i) penyajian pendapatan interkoneksi dari penyajian neto menjadi bruto, yang sebelumnya disajikan secara neto oleh Perusahaan sesuai dengan praktek industri telekomunikasi di Indonesia, ; (ii) reklasifikasi panggilan keluar kepada operator lain dari pendapatan interkoneksi ke pendapatan telepon; (iii) penangguhan pendapatan dari pemasangan dan koneksi; (vi) pencatatan Pola Bagi Hasil (“PBH”) dicatat sama dengan sewa pembiayaan.
**) EBITDA merupakan laba usaha sebelum penyusutan dan amortisasi. EBITDA dan rasio-rasio terkait lainnya yang terdapat dalam Laporan Tahunan ini adalah sebagai indikator tambahan atas kinerja dan tingkat likuiditas Perusahaan yang tidak diwajibkan oleh atau disajikan sesuai dengan PSAK Indonesia. EBITDA tidak merupakan indikator dari kinerja atau likuiditas keuangan TELKOM sesuai dengan PSAK Indonesia dan tidak boleh dianggap sebagai pengganti dari laba bersih, laba usaha atau pengukur kinerja lainnya yang didapat sesuai dengan PSAK Indonesia atau sebagai pengganti dari arus kas yang didapat dari kegiatan operasional sebagai indikator dari tingkat likuiditas Perusahaan. TELKOM menganggap bahwa EBITDA adalah indikator yang efektif dalam mengukur kinerja operasional Perusahaan karena mencerminkan biaya kas operasional dengan menghapus penyusutan dan amortisasi. Metode yang digunakan untuk menghitung EBITDA mungkin saja berbeda dengan istilah yang digunakan oleh perusahaan lain untuk EBITDA. Berikut ini adalah rekonsiliasi laba usaha TELKOM terhadap EBITDA.